Senin, 21 Juli 2008

Belajar Fotografi KA



BULAN April 2007 aku terkejut ketika namaku terdaftar dengan sendirinya di milis railway photography. Gila, motret dengan jiwa seni fotografi aja aku nggak bisa, cuma dalam taraf belajar, kok namaku di pajang dalam milis railway photography? Siapa yang masang? Tetapi nggak apapa deh, berarti hasil karyaku soal foto kereta api yang masih pas-pasan dihargai oleh mereka yang hobi fotografi, alhamdulilah. Daripada nggak, mendingan buat belajar sekalian. Sebenarnya bicara soal fotografi, aku sendiri bila ingin menciptakan sebuah karya fotografi yang bagus, mesti harus membangun mood dulu baru ngambil obyek yang akan dibidik. Salah seorang rekan fotografer terkenal dari Mata Semarang Photography Club, namanya Pak Agus Wis, kelihatannya berpendirian sama denganku yaitu kalau beliau perlu konsep terlebih dulu baru mengambil obyeknya yang akan di foto. Cuma bedanya, mood yang dibangun dalam fotografi ini harus dibangun secepatnya, tidak bisa menunggu lama seperti ketika aku menulis puisi, buku, atau lagu. Saat itu pula harus muncul. Nah, kalau yang model kayak gini, aku yang kerepotan. Terkadang aku menyesali kenapa nggak kayak temanku yang tadi motretnya kayak gini, dst ...dst...Selain itu modal fotografi yang aku miliki pas-pasan. Saat itu hingga kini aku hanya memiliki 1 kamera digital Kodak C330 yang aku beli tahun 2006. Sering aku minder dengan teman sesama fotografer apalagi wartawan. Selain itu kamera digital yang mini sudah umum dipakai masyarakat, dan aku pikir seorang wartawan kayak aku harus memakai kamera kelas XLR...duh malunya, duit darimana ya aku bisa beli kamera segede itu. Lagi pula gajiku pas-pasan, dan aku hanya mengandalkan honor dari seorang wartawan bukan dari hasil terima amplop (aku sangat tidak suka menerima amplop duit setiap kali meliput). Namun gambaran soal wajib tidaknya seorang wartawan mengenakan kamera XLR terjawab sudah ketika aku mendapat tugas meliput acara bulutangkis di GOR Satria Purwokerto awal Juni 2008 lalu. Ternyata rekan-rekan wartawan dari Jakarta masih banyak yang memakai kamera digital mini bukan XLR, hatiku jadi plong. Kembali ke soal belajar fotografi di kereta api. Ketika aku memiliki kamera digital tahun 2006, aku mulai hobi hunting kereta api. Lama-lama aku gatal ingin mengabadikan kereta api yang lagi lewat, atau berhenti dengan cita rasa fotografi yang tinggi. Kegemaranku memotret kereta api atau obyek apapun selalu dari sudut rendah. Entah kenapa selalu ingin mengambil dari sudut rendah. Kemudian aku hasilkan sebuah karya muktahir pertama berjudul : Sunshine In Poncol Bahkan ketika memotret spoor di Stasiun Mangkang dan Jrakah, aku lakukan dengan sudut rendah agar mendapatkan bidang horisontal dari pemandangan terjauh. Mungkin mood itulah yang muncul pertama kali ketika mengambil gambar apapun. Selain itu aku menyukai gambar yang separuh bayangan (silhoute) karena terinspirasi oleh hasil cover album The Beatles-Meet The Beatles yang menampilkan separuh bayangan. Cara itu aku praktekkan hingga menghasilkan karya Menengok Argo Muria dengan modelnya adalah seorang railfan(pecinta KA) dari IRPS anggota termuda asal kota Pekalongan, Syaeful di dalam kereta Tawang Jaya. Tetapi adakalanya, sebuah hasil karya yang tanpa direncanakan akan menghasilkan karya yang lebih bagus dan mendapat pujian para fotografer atau pengamat fotografi, misalnya pada karyaku berjudul Menyeberang Jembatan Indomie. Ketika karya tersebut aku tanyakan kepada fotografer terkenal Mas Stefanus Hanie, beliau menilai karyaku ini paling baik daripada beberapa foto hasil karyaku lainnya. Yang lain, masih banyak kekurangannya, kata Mas Stefanus. Begitu pula rekan satu kantorku, Mas Dwi N R yang juga jago fotografi turut menaruh penilaian yang bagus bagi karyaku berjudul Menyeberang Jembatan Indomie. Kenapa disebut jembatan Indomie? karena jembatan tersebut pernah dipakai syuting iklan Indomie beberapa tahun silam. Sayang, ketika aku memutuskan keluar dari dunia railfan tanggal 12 Januari 2008, aku mengakhiri kegiatan memotret kereta api ditempat-tempat penting macam Depo Lok Semarang Poncol, Stasiun Semarang Poncol, Stasiun Alas Tuwa. salah satu rekan railfan dari IRPS Semarang yang kerap bersamaku hunting kereta api, Mas Yosanto mengaku nggak punya teman untuk hunting kereta api lagi di tempat-tempat tersebut. Tetapi belakangan, arah kegiatan IRPS Semarang setelah aku mengundurkan diri, denger-denger lebih berorientasi ke preservasi bukan cuma sekedar fotografi. Pasalnya rekan-rekanku dari IRPS Semarang merasa prihatin melihat banyaknya aset-aset kereta api pertama di Indonesia (apalagi kota Semarang sebagai kota kereta api pertama di Indonesia) banyak yang musnah. Semoga preservasi ini membawa hasil, amien. Jayalah Kereta Api Indonesia...Semboyan 40/41
Nugroho Wahyu Utomo

Tidak ada komentar: