Sabtu, 09 Agustus 2008

Trend 80-an Dalam Kereta Api





Tidak cuma musik atau lainnya yang mengikuti trend 80-an. Kereta api pun latah mengikuti trend 80-an. Buktinya, beberapa lokomotif sempat disulap menjadi lokomotif era PJKA dengan ciri khasnya warna kuning(krem) ijo lengkap dengan tanda roda bersayap di bodi depan - belakangnya. Ide menjadikan lok dengan warna khas DKA atau PJKA ini bermula ketika IRPS (Indonesian Railway Preservation Society) pada tahun 2002 ingin menyelamatkan lokomotif CC20015 yang teronggok di Depo Lok Cirebon. Ide ini disambut positif oleh Daop III PT KA sekaligus PT KA pusat di Bandung. Kemudian dilakukan preservasi melalui program Friends Of CC200. Hasilnya lok CC20015 yang mesinnya merupakan kanibal dari mesin lok CC20008 dan CC20009 akhirnya bisa dihidupkan dan bisa tampil dengan gaya PJKA berwarna kuning-krem-ijo. Lokomotif CC200 merupakan lokomotif diesel elektrick pertama buatan General Electrick - Alco (American Locomotif Co) yang didatangkan ke Indonesia tahun 1953 sebanyak 26 unit dan sempat diresmikan penggunaannya oleh Presiden RI I Ir Soekarno. Era masuknya lokomotif CC200 merupakan awal dari dieselisasi lokomotif di Indonesia setelah sebelumnya menggunakan lokomotif uap. Menurut Ka Depo Lok Semarang Poncol Darmadi bahwa keperkasaan lok CC200 yang diesel elektrick sempat diadu dengan lok uap yang jauh lebih canggih yaitu lok D52. Hanya selang tiga tahun pemerintah RI membeli lokomotif D52 dengan CC200. Lokomotif D52 dibeli tahun 1950 dan merupakan lokomotif paling mumpuni tetapi rawan ledakan produksi Krupp Jerman. "Sayang, ketika saya sedang senang-senangnya menjalankan lok uap D52, tiba-tiba lok tersebut harus diberhentikan dinasnya dan akhirnya dibantai," kata Pak Darmadi yang mulai bertugas di lingkungan PT KA sejak tahun 1981. Sementara itu lok CC20015 setelah dapat dihidupkan kembali tahun 2003 akhirnya menjadi lok yang bertugas mengantar gaji pegawai per petak stasiun sekaligus feder bagi KA Cireks sampai di Brebes. Selang tiga tahun kemudian giliran lok BB200 yang dipreservasi oleh IRPS Semarang dengan bekerja sama dengan Daop IV PT KA. Lok BB200 yang dipilih untuk dipreservasi sempat beraneka ragam. Aku waktu menjagokan lok BB20013 yang mesinnya masih bandel dan anti rewel. Pak Yatno (Ka Depo Lok SMC waktu itu) menjagokan lok BB20008. Sedangkan Pak Rono Pradipto (Ka Daop IV) menyukai lok BB20023. Entah kenapa tiba-tiba ketiga pilihan tadi tak ada yang tepat, dan pilihan kemudian jatuh pada lok BB20029. Padahal lok tersebut kerap rewel di jalan. Lucunya ketika dirias menjadi lok era PJKA, BB20029 nggak rewel di jalan lagi. "Mungkin dia lebih suka dicat model kayak gitu," seloroh salah seorang kru Depo Lok SMC. Namun bukan cuma BB20029 saja yang disulap menjadi lok zaman PJKA, kakaknya BB20021 juga kebagian jatah dibuat cantik seperti zaman PJKA dulu atas usulan Daop IV PT KA. Dan kedua lok kakak beradik tadi dijalankan untuk menarik rangkaian KLB (kereta luar Biasa) 140 Tahun Perkereta Apian Indonesia Semarang-Tanggung-Kedungjati tanggal 10 Agustus 2007. Tak mau kalah dengan saudara sepupunya yang menginap di wilayah Daop IV, lok BB201 pun juga turut dirias menjadi lok bergaya PJKA. Pilihan kemudian jatuh pada dua lok BB201 yang masih hidup yaitu lok BB20103 dan BB20110. Kemudian lok D300 di depo Lok Cilacap yaitu lok D30029 juga di cat model PJKA. Terakhir tanggal 6 Agustus 2008 Depo Lok Semarang Poncol juga menyulap lok D30127 menjadi lok bercat ala PJKA. Jayalah Kereta Api Indonesia...Semboyan 40/41 Nugroho Wahyu Utomo

2 komentar:

semboyan6 mengatakan...

aduh ternyata punya blog spoor ya! makanya gak pernah nongol, sibuk disini ternyata, salut mas. lanjutkan!

Nugroho Wahyu Utomo mengatakan...

he eh, bung