Selasa, 14 Oktober 2008

Bila Track Depo Lok SMC-Depo Lok DH-SMC Aktif (2-habis)

Keesokan harinya (Selasa, 14/10) aku balas dendam dengan memotret beberapa perkembangan dan kekurangan di lintas Depo Lok SMC-Depo Lok DH-Stasiun SMC. Sebelumnya aku menyempatkan diri ke counter railshop membeli Majalah KA edisi Oktober 2008 yang sempat kehabisan dan pesan lewat Pak Margono dari KATV hari Selasa itu pula. Dalam perjalanan dari Stasiun Semarang Tawang (SMT) aku menyusuri rel sampai pos perlintasan Jalan Petek. Ternyata track di dekat pintu perlintasan Stasiun SMT bantalan betonnya banyak yang pecah. Diduga akibat ada benturan antara roda kereta / lok dengan bantalan beton itu sendiri. Aku langsung mengambil gambarnya. Menurut petugas pos perlintasan Jalan Petek, memang jarang terjadi ada anjlokan KA di dekat Stasiun SMT. Petugas itu malah menyangka kalau bantalan beton itu pecah lantaran rantai kereta/ lok jatuh menimpa bantalan beton. Aku langsung menilai bahwa kualitas bantalan beton itu sangat kurang karena terkena benturan keras rantai kereta saja sudah pecah. Selain itu antara bantalan satu dengan lainnya yang harusnya terisi batu kricak, justru kurang terisi penuh. Karena bila bantalan itu pecah dengan kondisi minimnya batu-batu kricak di antara bantalan satu dengan lainnya, akan menyebabkan kondisi rel tidak stabil. Beruntung jalur tersebut merupakan jalur yang dilalui KA dengan kecepatan maksimum 50 - 10 km/jam karena akan memasuki wesel-wesel percabangan rel di Stasiun SMT. Tetapi kondisi rel itu tetap membahayakan berapapun kecepatan KA yang melintas. Aku baru sampai di depo Lok SMC untuk memotret jalur Depo Lok SMC-Depo Lok DH-Stasiun SMC setelah KA Barang GGW yang ditarik lok CC20170 milik depo lok JNG melintas dari arah barat (SMC) ke arah timur (SMT). Ketika memasuki depo lok SMC aku menemui lok BB30125 milik Depo Lok Madiun tengah stabling di dekat lok D30117 milik Depo Lok Cepu. Dua lok DH ini rencananya digunakan sebagai lok "yuyu kangkang" bila Stasiun SMT banjir. Tetapi ketika sampai di peron Stasiun SMC, salah seorang pedagang yang mengenalku sbagai pecinta KA (padahal aslinya sudah out sejak 12/1-2008), wartawan, dan penulis masalah KA di Suara Merdeka, melaporkan kalau sekitar pukul 13.00 terjadi kebakaran di cerobong asap lok DH (lok D30117) yang tengah langsir dari SMC-depo lok SMC karena melangsir KA Tawang Jaya. Beruntung api dapat dipadamkan dan tidak ada korban. Ketika aku sampai di depo sebelumnya, kondisi lok sudah cukup baik. Tetapi aku masih bertanya kok bisa-bisanya cerobong asapnya terbakar. Kalau mesinnya terbakar, aku sudah bisa membayangkan. Saat sedang ngobrol dengan pedagang tadi, tiba-tiba jalur 1 masuk lok BB20008 yang menarik KRD Pandanwangi dari Solo Balapan. Wah, kok Pandanwangi, kenapa bukan KRD Kaligung dari Tegal yang begitu banyak "bidadari-bidadari" (cewek-cewek cantik mahasiswi) Tegal turun dari dalam KRD itu. Lumayan... buat cuci mata. sekian hasil penelitianku...from PeKAMatra (Peduli Kereta Api Masinis Putra). (Tamat)
Jayalah KA Indonesia... Semboyan 40/41

Nugroho Wahyu Utomo


Bila Track Depo Lok SMC-Depo Lok DH-SMC Aktif (1)


Lama nggak melakukan penelitian di lingkungan PT Kereta Api khususnya Daop IV, akhirnya hari Senin (13/10) aku putuskan untuk melakukan penelitian. Sasaran penelitian pertama adalah Depo Lok Semarang Poncol (SMC). Ya sekalian aku bersilaturahmi lebaran, karena semenjak lebaran lalu (1-2/10) aku belum pernah menginjakkan kaki dan bertatap muka dengan para kru Depo Lok SMC. Setelah ngobrol sebentar dengan Pak Sutiyono (Ka Ur Luar Depo) dan kru lainnya, aku langsung melakukan kegiatan penelitian. Pertama yang aku datangi adalah jalur menuju depo lok DH yang sebelumnya sempat mangkrak tak terawat. Kelak bila depo lok DH yang merupakan depo lok SMC yang asli (bekas depo lok uap C28) dan di dalamnya terdapat 3 track difungsikan lagi, maka bila ditambah dengan track di depo lok SMC saat ini berjumlah 7 track, berarti depo lok SMC total memiliki 10 track. Salah satu track ke depo lok DH yang kini menjadi tempat mangkal lok DH dan KRD mangkrak ada yang menuju Stasiun SMC. Tahun 2007 ketika aku meliput untuk edisi khusus daop IV Majalah KA, jalur ke arah depo lok DH-Stasiun SMC masih kurang terawat dan besi rel banyak yang hilang. Namun sebelum lebaran lalu, aku sudah melihat perkembangan yang cukup baik dengan akan diaktifkannya track ke depo lok DH. Beberapa lok DH macam lok D30142 dan BB300 warna putih dan sudah rusak, nampak dikeluarkan dari track yang akan diaktifkan. Sebelumnya track ini juga dipenuhi rerumputan liar setinggi paha orang dewasa dan deretan lok DH tak berplat nomor serta KRD. Kini track ini sudah bersih dan beberapa kru nampak memberi batu kricak untuk balas rel. Namun beberapa kekurangan masih aku temui di jalur rel Depo Lok SMC-Depo Lok DH-Stasiun SMC. Pertama beberapa bantalan plat baja nampak berkarat akibat terlalu lama terendam dalam tanah yang kondisinya jenuh lantaran pori-pori tanahnya terisi air rob. Bantalan rel yang digunakan track ke arah depo lok SMC dari depo lok DH nampak gado-gado. Kenapa dibilang gado-gado? Karena ada yang menggunakan bantalan kayu, plat baja, sampai beton. Kalau memakai bantalan beton dan plat baja, maka penambatnya menggunakan penambat rel pandrol. Tetapi bila menggunakan bantalan kayu, menggunakan penambat kaku yang sebenarnya sudah nggak layak digunakan karena rawan pencurian. Begitu pula penambat rel pandrol masih rawan pencurian. Yang mengejutkan meskipun memakai bantalan kayu, toh bantalan tersebut masih cukup kuat untuk menopang besi rel R25. Padahal bantalan kayu itu terendam lama di dalam tanah bercampur rob. Mengingatkan pada bantalan rel di Stasiun Tuntang yang saat dibongkar dari rendaman tanah selama 29 tahun (1977-2006), masih terawat baik. Suatu pemandangan yang mengejutkan adalah beberapa bantalan kayu dan plat baja yang terdapat di jalur menuju Stasiun SMC dari depo lok Dh, penambat relnya banyak yang hilang. Sebagai pengganti, bantalan rel itu dilas. Pada proses pengelasan itu hanya bersifat sementara, karena dikhawatirkan las itu akan terlepas akibat getaran mesin lok yang melintas dan bila dibiarkan bisa menyebabkan besi rel bergeser ke samping dan lok akan anjlok. Kondisi ini mengingatkan pada kondisi rel lintas Ambarawa - Tuntang, sehingga itulah alasannya mengapa pihak Mus KA Ambarawa tak berani mengoperasikan lok uap di track itu dan hanya berani mengoperasikan lori motor.
Setelah puas mencatat dan melakukan penelitian, aku lalu mengeluarkan kamera digital dari dalam tas. Sial, kondisi kameraku yang sudah pernah jatuh 3 x menyebabkan penutup batere nya nyempal, dan batere keburu cepat habis. Akibatnya batera tidak bisa conect sehingga kamera kerap mati. Beruntung bukan pas tugas liputan. Karena walau bagaimanapun juga yang namanya kamera adalah senjata yang mesti dibawa oleh wartawan seperti aku. Nah, pas lagi bokek, kamera rusak. Harus beli baru lagi nih. Untuk sementara aku "cumi" (cuman minjem) kamera digital milik keponakanku. (bersambung)
Jayalah KA Indonesia...Semboyan 40/41
Nugroho Wahyu Utomo

Sabtu, 27 September 2008

KRDI Banyubiru Bisa Bertahan Lama?



Menjelang musim mudik tahun 2008, Daop IV PT Kereta Api (Persero) melalui Depo Lok Semarang Poncol, mendapat hadiah satu set KRDI (Kereta Rel Diesel Indonesia) untuk kelas ekonomi. KRDI itu diberi nama Banyubiru dan melayani lintas Semarang-Solo-Sragen. Desainnya menyerupai KRL (Kereta Rel Listrik) BN Holec di Jakarta. KRDI ini diproduksi oleh PT Inka (Industri Kereta Api) Madiun. Rencananya KRDI ini akan terdiri dari dua kelas yaitu ekonomi dan bisnis. Namun yang didatangkan pertama ke depo tanggal 17 September 2008 baru kelas ekonomi, sedangkan kelas bisnis menyusul. Tanggal 19 September 2008 KRDI Banyubiru diresmikan penggunaannya oleh Menteri Keungan Sri Mulyani di Stasiun Semarang Tawang.
Sebenarnya KRDI Banyubiru menurutku bukan KRDI yang pantas untuk melintasi jalur Semarang-Solo. Pasalnya jalur itu banyak belokan-belokan. Terbukti dengan banyaknya sinyal pendahulu pada beberapa stasiun seperti di Stasiun Kedungjati, Padas, dll. Selain itu KRDI yang seharusnya mampu dipacu dengan kecepatan 120 km/jam, saat melalui Semarang-Solo hanya diizinkan maks 60 km/jam. Kalau dipaksakan cepat, maka KRDI ini bisa "Njengkelit"(anjlok) di tengah jalan.
Satu hal yang sangat disayangkan dari KRDI Banyubiru ini adalah tidak adanya fasilitas WC umum. Kemudian jadwal keberangkatannya justru terlalu pagi dari Stasiun Semarang Poncol, yaitu pukul 05.00 WIB. Sehingga wajar bila jumlah penumpangnya minim. Itu pun tidak didukung dengan promosi dari pihak Daop IV PT KA. Aku meramalkan usia KRDI ini nggak bakalan lama. Bisa jadi nasibnya nyaris menyerupai KRD Pandanwangi dan KRD Semarang-Cepu yang selalu dimanja lantaran harus ditarik lok CC201/CC203/BB200. Kenapa nggak bertahan lama? Jawabannya terletak pada mesin dan jalur yang dilalui. Karena jalur yang dilalui berkelok-kelok, akan mempengaruhi gardan penggerak utama (sumber Depo Lok Semarang Poncol). Penyebab lainnya adalah patahnya poros pelumas pompa untuk motor diesel (sumber Depo Lok Semarang Poncol).Nah, semoga nasib KRDI Banyubiru bisa lebih diperhatikan dan usianya relatif panjang daripada KRD lainnya.
Jayalah KA Indonesia...Semboyan 40/41

Nugroho Wahyu Utomo

Kisah Di Balik Museum KA Ambarawa




Hampir setiap minggu aku selalu menyempatkan diri pergi ke Museum KA Ambarawa. Kedatanganku ke sono bukan untuk hura-hura, melainkan untuk melakukan penelitian. Kegiatan itu berkaitan dengan IRPS (Indonesian Railway Preservation Society) Semarang dengan Daop IV PT KA yang menggelar kegiatan restorasi museum. Tujuannya adalah agar pengunjung museum bukan sekedar puas menikmati perjalanan KA Wisata Ambarawa-Bedono yang ditarik lok uap B2502/B2503, naik lori wisata Ambarawa-Tuntang, atau menyaksikan koleksi lok uap. Namun mereka juga mendapatkan nilai edukasi dengan memasuki hall pamer peralatan (prasarana KA) zaman dulu seperti genta, sinyal, wesel, lampu hansin, telepon, telegraf, dll. Selain itu ada pula foto-foto lok uap jadul yang dipasang di hall pamer. Nah, selama di Museum KA Ambarawa, aku juga mendapatkan kisah-kisah menarik dari kru museum mulai dari soal museum, lok uap, lori, sampai soal hantu yang kerap gentayangan di museum. Hantu? Yup, museum KA Ambarawa adalah bekas stasiun KA dan benteng pertahanan Belanda bernama Willem 1 (baca Willem Ein). Bangunan ini didirikan oleh NIS (Nederland's Indishe Stoomtrammascapaj) pada tahun 1873. Kemudian pada tahun 1907 mengalami perubahan bentuk bangunan hingga seperti saat ini. Melihat bentuk bangunannya mirip dengan Stasiun Kedungjati di lintas Semarang-Solo. Maklum di Stasiun Kedungjati ada lijn cabang ke Ambarawa melalui Beringin dan Tuntang yang kini non aktif. Karena Museum KA Ambarawa (Stasiun Willem 1) dibangun penduduk pribumi dengan sistem kerja paksa dan memakan korban cukup banyak, maka wajar bila di museum itu ada hantunya. Ada seorang kru berkisah padaku bahwa suatu malam saat jaga dia didatangi hantu tanpa kepala dan lengan serta di kedua tangannya menggenggam uang kertas dalam jumlah banyak. Semula kru itu mengira dirinya tengah bermimpi. Namun setelah menepuk pipi kiri-kanannya, ternyata bukan mimpi. Beruntung kru itu nggak takut hantu, malah dicuekin. Katanya kalau duit itu diterima, maka setelah hantu tadi raib, maka duit itu akan berubah menjadi daun. Mirip dalam film/ sinetron horor. Aku juga masih ingat cerita Pak Sudono (KS Ambarawa sebelumnya) bahwa di ruang kerjanya ada hantu cowok Belanda berambut putih panjang sampai tangan dan kalau tertawa...ho ho ho ho. Namun hantu itu nggak mengganggu. Selain hantu, ada juga kisah seorang mahasiswa lugu yang tengah praktek kerja di museum. Ceritanya mahasiswa itu tengah kasmaran dengan seorang cewek yang tinggal di kos milik ortunya. Nah, dia minta diajari kru museum bagaimana menggaet cewek yang jitu. Itulah sepenggal kisah menarik yang bisa aku peroleh saat berkunjung ke Museum KA Ambarawa.
Jayalah KA Indonesia...Semboyan 40/41

Nugroho Wahyu Utomo

Sabtu, 30 Agustus 2008

Nyepur Jarak Dekat

Lagi suka nyepur jarak dekat. Itulah yang aku alami selama ini. Entah kenapa ketika aku memanfaatkan waktu luangku selain menjadi wartawan dengan menggelar penelitian KA, pulangnya menuju kota Semarang aku kerap naik KA murah meriah kelas ekonomi dan turun di Stasiun Semarang Poncol. Lantas KA apa yang aku naiki sepulang dari penelitian? Jawabnya adalah KA Feder Bojonegoro jurusan Semarang-Bojonegoro pp yang melintas 2 trip setiap harinya. Aku kerap berdesak-desakan dengan penumpang lain di dekat pintu kereta. Dan pernah saat pulang dari Stasiun Brumbung tanggal 10 Agustus 2008 silam, aku turun dari kereta dengan kaki yang tidak bisa digerakkan. Mirip orang yang kakinya kram. Untung hal itu tak berlangsung lama, walau aku harus berjalan keluar Stasiun Semarang Poncol dengan jalan sedikit pincang. Kejadian lainnya adalah saat aku pulang dari Stasiun Brumbung tanggal 28 Agustus 2008. Saat KA Feder Bojonegoro masuk Stasiun Alas Tuwa, KA ternyata bersilangan dengan KA Pandanwangi yang ditarik lok BB20021 dari arah barat. Pulangnya sampai di Stasiun Semarang Poncol, aku kehujanan dan tentu saja basah kuyup. Padahal malamnya mau pergi meliput di Taman Budaya Raden Saleh Semarang. Ya nasib. Jayalah KA di Indonesia...Semboyan 40/41
Nugroho Wahyu Utomo

Penelitian Tiada Henti



Penelitian tiada henti. Ya itulah yang aku lakukan ketika pikiran tengah jenuh oleh berbagai kegiatan liputan. Liputan yang semakin berat, dan honornya yang keluar besar tetapi keluar agak telat, memang sempat bikin frustasi. Aku sampai stress sendiri memikirkan persoalan-persoalan kekurangan finansial untuk kegiatan liputan. Belum, tabungan yang semakin berkurang, bukannya tidak bertambah. Padahal aku lagi menabung untuk menunaikan ibadah haji setelah itu menikah. Tak ada jalan lain. Aku harus membuat tulisan opini tentang KA di media-media. Tetapi opini yang aku buat ini berdasarkan penelitian di lapangan. Kalau di muat, ya lumayan bisa dapat duit dari honor tulisan itu. Namun honor tersebut tidak langsung menggemukkan tabunganku. Satu-satunya jalan aku harus banyak melakukan penelitian dan membuat tulisan di beberapa media, bukan cuma satu media. Aku bingung, mau ditaruh di mana tulisanku yang semakin banyak itu. Di media X misalnya, aku bingung kalau tidak dimuat plus tidak ada jawaban sama sekali dari redaksi yang bersangkutan. Terus terang aku bukan siapa-siapa dalam hal penulisan opini apalagi penelitian. Posisiku hanyalah seorang peneliti "Kemarin Sore" yang masih kalah dengan peneliti di tingkat perguruan tinggi dengan gelar profesor doktor dan menghasilkan beberapa buku penelitian. The show must go on...penelitian tetap jalan sekaligus untuk merefresskan pikiranku. Saat jalan KA eks Semarang Joana Stoomtrammascapaj (SJS) di tepi Jalan Kaligawe mulai terlihat untuk pelebaran Jalan Kaligawe, aku langsung terjun ke lokasi melakukan penelitian. Begitu pula dengan kondisi terakhir Museum KA Ambarawa yang semakin tidak aman karena banyak jalan akses bebas masuk ke lingkungan stasiun, sementara perangkat pendukung lokomotif termasuk prasarana lainnya bisa dengan mudahnya dijarah. Kalau dibiarkan, perjuangan anggota IRPS dan Daop IV PT KA bisa sia-sia. Maka sekali lagi aku membuat makalah penelitian itu. Beberapa hasil penelitianku yang telah dimuat di Suara Merdeka memang sudah cukup banyak. Sebut saja misalnya Transportasi Kedungsapur yang menyoroti tentang diaktifkannya kembali jalur-jalur KA mati (lintas cabang) untuk mengurangi kepadatan lalin jalan raya dan kemacetan lintas KA akibat adanya PLH (kecelakaan). Tulisan tersebut dimuat sekitar bulan Mei 2007 silam, dan menjadi tulisan opini pertama tentang KA yang dimuat di Suara Merdeka. Penelitian terakhir yang aku lakukan dengan menghasilkan beberapa tulisan di media Suara Merdeka adalah tentang Pengamanan Jalur KA Di Musim Kemarau, Optimalisasi Jalur KA Ambarawa-Tuntang, dan KA Atasi Kelangkaan BBM. Pengamanan Jalur KA di Musim Kemarau merupakan tulisan hasil penelitian di Stasiun Alas Tuwa Semarang setelah melihat kejadian kebakaran pada bantalan kayu rel di dekat sinyal masuk di sebelah barat. Kemudian Optimalisasi Jalur Ambarawa-Tuntang adalah penelitian di lintas kedua stasiun itu untuk dikembangkan menjadi jalur KA Wisata bertarif murah meriah dan KA barang guna meningkatkan sektor perekonomian kedua daerah. Kalau KA Atasi Kelangkaan BBM merupakan tulisan yang muncul ketika aku melihat betapa Depo Lok Semarang Poncol terus merugi dengan setiap harinya memesan minimal 6 kali 16.000 l solar untuk bahan bakar lokomotif. Memang Depo Minyak Pengapon tidak dimanfaatkan lagi dengan membuka jalur ke sana yang telah tenggelam rob untuk mengambil BBM lokomotif? Cuma satu tulisanku yang aku buat bukan berdasarkan dari penelitian di lapangan, tetapi dari syudy pustaka yaitu Trem Transportasi Ramah Lingkungan. Jayalah KA Indonesia...Semboyan 40/41 Nugroho Wahyu Utomo

Sabtu, 09 Agustus 2008

Trend 80-an Dalam Kereta Api





Tidak cuma musik atau lainnya yang mengikuti trend 80-an. Kereta api pun latah mengikuti trend 80-an. Buktinya, beberapa lokomotif sempat disulap menjadi lokomotif era PJKA dengan ciri khasnya warna kuning(krem) ijo lengkap dengan tanda roda bersayap di bodi depan - belakangnya. Ide menjadikan lok dengan warna khas DKA atau PJKA ini bermula ketika IRPS (Indonesian Railway Preservation Society) pada tahun 2002 ingin menyelamatkan lokomotif CC20015 yang teronggok di Depo Lok Cirebon. Ide ini disambut positif oleh Daop III PT KA sekaligus PT KA pusat di Bandung. Kemudian dilakukan preservasi melalui program Friends Of CC200. Hasilnya lok CC20015 yang mesinnya merupakan kanibal dari mesin lok CC20008 dan CC20009 akhirnya bisa dihidupkan dan bisa tampil dengan gaya PJKA berwarna kuning-krem-ijo. Lokomotif CC200 merupakan lokomotif diesel elektrick pertama buatan General Electrick - Alco (American Locomotif Co) yang didatangkan ke Indonesia tahun 1953 sebanyak 26 unit dan sempat diresmikan penggunaannya oleh Presiden RI I Ir Soekarno. Era masuknya lokomotif CC200 merupakan awal dari dieselisasi lokomotif di Indonesia setelah sebelumnya menggunakan lokomotif uap. Menurut Ka Depo Lok Semarang Poncol Darmadi bahwa keperkasaan lok CC200 yang diesel elektrick sempat diadu dengan lok uap yang jauh lebih canggih yaitu lok D52. Hanya selang tiga tahun pemerintah RI membeli lokomotif D52 dengan CC200. Lokomotif D52 dibeli tahun 1950 dan merupakan lokomotif paling mumpuni tetapi rawan ledakan produksi Krupp Jerman. "Sayang, ketika saya sedang senang-senangnya menjalankan lok uap D52, tiba-tiba lok tersebut harus diberhentikan dinasnya dan akhirnya dibantai," kata Pak Darmadi yang mulai bertugas di lingkungan PT KA sejak tahun 1981. Sementara itu lok CC20015 setelah dapat dihidupkan kembali tahun 2003 akhirnya menjadi lok yang bertugas mengantar gaji pegawai per petak stasiun sekaligus feder bagi KA Cireks sampai di Brebes. Selang tiga tahun kemudian giliran lok BB200 yang dipreservasi oleh IRPS Semarang dengan bekerja sama dengan Daop IV PT KA. Lok BB200 yang dipilih untuk dipreservasi sempat beraneka ragam. Aku waktu menjagokan lok BB20013 yang mesinnya masih bandel dan anti rewel. Pak Yatno (Ka Depo Lok SMC waktu itu) menjagokan lok BB20008. Sedangkan Pak Rono Pradipto (Ka Daop IV) menyukai lok BB20023. Entah kenapa tiba-tiba ketiga pilihan tadi tak ada yang tepat, dan pilihan kemudian jatuh pada lok BB20029. Padahal lok tersebut kerap rewel di jalan. Lucunya ketika dirias menjadi lok era PJKA, BB20029 nggak rewel di jalan lagi. "Mungkin dia lebih suka dicat model kayak gitu," seloroh salah seorang kru Depo Lok SMC. Namun bukan cuma BB20029 saja yang disulap menjadi lok zaman PJKA, kakaknya BB20021 juga kebagian jatah dibuat cantik seperti zaman PJKA dulu atas usulan Daop IV PT KA. Dan kedua lok kakak beradik tadi dijalankan untuk menarik rangkaian KLB (kereta luar Biasa) 140 Tahun Perkereta Apian Indonesia Semarang-Tanggung-Kedungjati tanggal 10 Agustus 2007. Tak mau kalah dengan saudara sepupunya yang menginap di wilayah Daop IV, lok BB201 pun juga turut dirias menjadi lok bergaya PJKA. Pilihan kemudian jatuh pada dua lok BB201 yang masih hidup yaitu lok BB20103 dan BB20110. Kemudian lok D300 di depo Lok Cilacap yaitu lok D30029 juga di cat model PJKA. Terakhir tanggal 6 Agustus 2008 Depo Lok Semarang Poncol juga menyulap lok D30127 menjadi lok bercat ala PJKA. Jayalah Kereta Api Indonesia...Semboyan 40/41 Nugroho Wahyu Utomo