Rabu, 06 Agustus 2008

Ada Hantu di KA Gumarang

Pernahkah anda naik kereta api lalu di dalamnya ada hantu berkelabat mengganggu perjalanan anda? Kalau pernah, berarti pengalaman anda mirip dengan pengalamanku. Ceritanya aku baru saja pulang dari kegiatan railtracking bersama IRPS Bandung dengan finish di Stasiun Kajaksan Cirebon sabtu 30 Juni 2007. Aku beli tiket KA Gumarang untuk balik ke Semarang, tetapi oleh petugas loket aku tidak mendapatkan tempat duduk. Ok deh, nggak masalah yang penting aku bisa pulang dengan selamat sampai di rumah di Semarang. KA Gumarang yang aku tumpangi baru masuk Stasiun Kajaksan Cirebon pukul 20.30 WIB. Selama perjalanan pulang dengan KA Gumarang yang ditarik lok CC20320, aku bercakap-cakap dengan penumpang lain yang kebetulan nggak dapat tempat duduk dan memilih berdiri di dekat pintu kereta. Pria berusia sekitar 40 tahunan yang aku ajak ngobrol tersebut rupanya juga akan pulang ke Semarang dan tinggal di kampung halamannya komedian Thukul Arwana di Purwosari Perbalan tak jauh dari Stasiun Semarang Poncol. Ketika KA Gumarang masuk ke Stasiun Sragi (sebelum Pekalongan) pukul 00.15 WIB untuk bersilangan dengan KA lain dari arah berlawanan, tiba-tiba bapak yang berada di samping berteriak ada anak kecil duduk di gandengan kereta. Aku langsung melongok ke arah gandengan dan benar ada anak kecil hanya bercelana pendek, telanjang dada, kepala gundul, badan kurus tengah duduk di gandengan kereta. Anehnya anak kecil itu tidak memperlihatkan wajahnya dan kedua tangannya hanya dalam posisi seperti para tawanan perang Romusha atau kerja rodi di zaman Belanda. Aku meminta turun penumpang gelap itu dan anak kecil itu mau turun dengan pelan-pelan. Lalu anak kecil itu berjalan ke arah rel yang akan dilalui KA dari arah berlawanan. Sementara itu polisi yang berjaga di dalam kereta langsung memerintahkan para petugas untuk menutup pintu kereta bila anak kecil itu masuk. Tetapi anak kecil itu terus berjalan ke arah barat dengan menyusuri rel yang akan dilalui KA dari belakangnya. Tak lama kemudian dari kejauhan nampak sorot lampu lok CC201 yang menarik rangkaian KA melaju dengan kencang sambil membunyikan semboyan 35 nya. Aku berteriak pada anak kecil itu agar menyingkir, tetapi tidak digubris. Dan ketika KA mulai mendekat dalam jarak sekitar 1 meter dari anak kecil itu, tiba-tiba anak kecil itu menghilang ke semak-semak yang gelap di samping rel. Semula aku menduga ia anak yang tengah stress karena nggak lulus ujian. Tetapi pikiranku yang lain termasuk pikiran bapak di sampingku menyebutkan kalau itu adalah hantu. Bisa jadi ia hantu korban penyiksaan zaman kerja Rodi atau Romusha lalu gentayangan selama bertahun-tahun. Nah, kalau tiba-tiba aku menolong anak kecil tadi yang nyaris tertabrak KA, lalu anak kecil itu menghilang, tentu aku hanya dijadikan sebagai tumbal biar aku mati tertabrak KA. Itulah kerjaan hantu yang suka jahil dan mengerjai manusia. Memang kalau aku melihat kawasan Sragi baik stasiun maupun pabrik gulanya, merupakan bangunan kuno yang angker peninggalan zaman kolonial. Jadi wajar bila di daerah tersebut ada hantu gentayangan. Aku tiba di Semarang pukul 02.00 dini hari.Jayalah Kereta Api Indonesia...Semboyan 40/41 Nugroho Wahyu Utomo

Nyaris Dicium Argo Muria

Kehidupan manusia dan makhluk lain di dunia merupakan rahasia Allah SWT. Kalau memang sudah saatnya ...ya apa boleh buat. Namun manusia senantiasa berdoa kepada Allah SWT ketika tengah melaksanakan tugas, seperti yang dialami oleh aku ketika setelah mengikuti Jumpa Pers Ratu di Star Queen hari Sabtu petang di bulan November 2006, aku nekat bertandang ke Depo Lok Semarang Poncol. Turun dari boncengan sepeda motor temanku, aku langsung meniti rel utama dari pintu perlintasan Stasiun Semarang Poncol Jalan Hasanudin Semarang. Setiap aku meniti rel, aku selalu menengok ke belakang atau kedepan termasuk menatap lampu sinyal keberangkatan Stasiun Semarang Poncol yang saat itu aku lihat menyala merah...berarti tak ada KA yang lewat...aman bagiku untuk terus berjalan. Tak lupa aku membaca doa yang pernah diajarkan mendiang Mbah Kolil (KH Kolil Bisri, seorang tokoh agama terkenal dari Rembang)...berkali-kali aku mengucap dalam hati...Sollalohu Ala Muhamad...dst sebagai upaya melindungi diri bila terjadi apa-apa pada diriku. Benar...tak jauh dari tubuhku yang baru saja meninggalkan spoor Stasiun Semarang Poncol, nampak dari samping Depo Lok Semarang Poncol ada lok CC201141r yang menarik rangkaian Argo Muria dengan mata melotot (lampu menyala). Aku terkejut dan langsung meloncat ke samping kanan rel sambil bergegas mengambil kamera digital dari dalam tasku. Alhamdulilah ...selamat...nggak ketabrak KA, kalau ketabrak ...ya udah tamat riwayatku di usia 34 tahun. Saat mengambil gambar rangkaian Argo Muria yang akan bertolak ke Jakarta Gambir, sang masinis melambaikan tangan ke arahku. Rupanya masinis itu mengenalku sebagai railfan (pecinta KA) yang kerap bertandang ke depo Lok Semarang Poncol. Walau selamat dari ciuman KA Argo Muria, namun saat itu jantungku masih empot-mpotan, mulutku seolah tak mampu berbicara apa-apa, sambil memikirkan kenapa tadi saat menengok ke belakang lampu sinyal keberangkatan masih merah tahu-tahu didepan ada rangkaian KA Argo Muria yang melaju kenceng banget. Apakah aku tengah dikerjain oleh makhluk halus sekitar rel yang selalu mengincar orang tengah berjalan di atas rel sambil melamun? Padahal aku posisi tengah awas, sambil membaca doa-doa agar terhindar dari bencana kecelakaan. Tetapi berkat doa itulah aku beruntung seolah ada yang mengingatkan aku agar mataku menatap ke depan dan di depan sana ada KA Argo Muria yang mau lewat...ya Allah SWT telah membimbingku untuk menyingkir dari mara bahaya.
Jayalah Kereta Api Indonesia...Semboyan 40/41
Nugroho Wahyu Utomo

Selasa, 05 Agustus 2008

Melacak Bekas Jalur KA Semarang-Rembang





Seperti apa sih jalur kereta api Semarang-Demak-Kudus-Pati-Rembang? Pertanyaan itu terus berkelabat dalam pikiranku pada saat usia 10 - 11 tahun ketika pertama kali aku naik KRD jurusan Plabuhan - Batang tahun 1983. Dua tahun kemudian, aku mulai menemukan jawabannya saat mengikuti tour bersama pasukan SD Pangudiluhur Yogyakarta ke kota Rembang. Dalam setiap perjalanan, nampak di tepi jalan raya ada rel kereta api yang saat itu entah masih terpakai atau sudah tidak aktif. Kalau dilihat dari bentuknya masih utuh sedikit dihiasi rerumputan di sekelilingnya. Namun jawaban itu baru aku peroleh ketika aku sudah duduk di bangku kelas I SMP tahun 1985, aku menyaksikan lok D301 tengah langsir atau stabling di depan Pabrik Jamu Nyonya Meneer Semarang tepatnya tepi Jalan Kaligawe Semarang. Kalau membayangkan peristiwa saat itu sama dengan menyaksikan pemandangan KA melintas di tengah kota seperti di Gladag - Solo (lintas Solo-Wonogiri). Kemudian pada tahun 1986 aku sempat menyaksikan rangkaian KA Feder Semarang-Demak yang ditarik lok D301 dengan rangkaian kereta penumpang dari kayu (mirip di Ambarawa) bersiap-siap berangkat di spoor 5 Stasiun Semarang Tawang. Corong di Stasiun Semarang Tawang langsung memberi info...KA jurusan Demak segera diberangkatkan. Aku baru teringat pada tahun 1979 pernah diajak bapakku melihat-lihat KA di kawasan Kemijen dan Semarang Gudang, nah saat mobil yang aku tumpangi akan menyeberang di jalur Halte Kemijen dengan Stasiun Semarang Tawang, nampak KA yang ditarik lok D301 tengah berhenti menanti sinyal masuk dibuka. KA itu sarat penumpang terutama para ibu-ibu yang akan berjualan di pasar. Ya...itulah KA jurusan Semarang-Demak-Kudus-Rembang saat masih aktif. Pemandangan lain ketika KA di jalur peninggalan Semarang Joana Stoomtrammascapaj masih aktif masih tahun 1979, aku juga menyaksikan rangkaian ketel (4 ketel bertuliskan Tatas (baca:Tetes)) melintas di tarik lok BB200 di Semarang Gudang, kemudian ditarik menuju jalur Semarang-Rembang di Halte Kemijen oleh lok D301, karena untuk ke jalur Semarang-Rembang tidak bisa dilalui lok besar macam BB200 atau CC201, jadi harus lok kecil macam D301/D300. Tahun 1996, 2000, 2002, 2003, 2004, 2005, hingga 2008, aku menyaksikan jalur KA Semarang-Rembang sudah ditutup. Dalam pandangan mataku nampak relnya semakin lama semakin menghilang ditelan pelebaran jalan raya atau bangunan rumah penduduk. Tahun 1996-2002, aku masih sempat menyaksikan Jembatan berkerangka baja yang melintang di atas Sungai Banjirkanal Timur Semarang dan Sungai Serang Kudus. Namun tahun 2003 kedua jembatan tersebut harus dieksekusi oleh para jagal besi tua. Aku sempat melihat bagaimana "mbrebes mili" nya badan jembatan ketika dirucat (dihancurkan) oleh para tukang besi dengan mendapat pengawasan dari pihak PT KA (Persero). Beberapa tubuhnya nampak diamputasi menjadi beberapa bagian. Aku tahu jembatan itu "mbrebes mili" dan seolah mengatakan sesuatu padaku...can you help me? Aku tak bisa berbuat banyak saat itu selain menuliskan komentar melalui surat pembaca di Suara Merdeka edisi November 2003. Menyusuri jalur KA Semarang-Demak-Kudus-Rembang pernah aku lakukan bersama Mas Deddy Herlambang (Koord Wil IRPS Semarang) pada tahun 2006, namun hanya sebatas sampai di Demak. Bangunan Stasiun Demak di bagian spoornya, sudah berubah menjadi hamparan pasir karena pengaruh garam yang merusak struktur bangunan emplasemen stasiun(bangunan ini difungsikan sebagai gudang penyimpan garam). Selain itu aku sempat menyaksikan Jembatan Kalijajar yang masih melintang kokoh dan luput dari pembantaian para jagal besi tua. Kini jembatan itu digunakan sebagai jembatan jalan raya oleh penduduk setempat. Aku dan Mas Deddy juga mendapat penjelasan kalau di Buyaran dan Sayung -Demak ada stasiun dan halte. Tetapi yang dapat ditemui hanya Stasiun Buyaran dengan bekas sinyal yang masih menjulang tinggi. Kemudian perjalanan menyusuri Semarang-Demak berakhir di Halte Genuk yang kini berubah menjadi bengkel motor. Sebelum berpetualang di jalur Semarang-Demak, aku dan Mas Deddy juga sempat mencari-cari bekas jalur ke arah Jepara, tetapi hasilnya nihil. Tahun 2008, aku mendapat sms dari seorang railfan di Rembang yang menyebutkan lok D30130 pernah melintasi jalur KA Semarang-Rembang. Kebetulan aku punya fotonya ketika masih berjaya di tahun 1970-an. Seandainya jalur KA Semarang-Rembang masih aktif sampai kini, tentu angka kemacetan lalu lintas akan dapat diatasi dan yang penting aku bisa melihat KA melintas di depan kantor Redaksi Suara Merdeka di tepi Jalan Kaligawe.Jayalah Kereta Api Indonesia...Semboyan 40/41 Nugroho Wahyu Utomo

Senin, 04 Agustus 2008

Sepatu Yang Berjasa ...5 Bulan Ganti

Bertugas menjadi seorang kontributor Majalah KA di Semarang memang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Bagaimana tidak? Setiap hari setelah liputan di tempat lain rampung, atau kalau memang saatnya meliput untuk urusan KA, maka mau tak mau harus berjalan di atas hamparan batu kricak yang merupakan balas bagi landasan rel kereta api. Apa boleh buat ketika tengah berjalan di atas balas, landasan sepatu yang lemah menyebabkan cepat berlubang tertusuk oleh tajamnya batu kricak di hamparan balas itu sendiri. Akibatnya setiap kali habis pulang dari kegiatan liputan kereta api, sepatu akan cepat memar di bagian landasannya, dan dalam waktu hitungan lima - enam bulan, landasan sepatu itu akan cepat bolong. Nah, kalau udah gitu urusan ganti armada sepatu pun dimulai, keluar duit buat beli sepatu baru, jebol lagi lima-enam bulan terus beli lagi ...dst. Seorang teman wartawan menyarankan padaku agar membeli sepatu boat karena terlihat lebih awet. Weehh...masak liputan acara di tempat lain harus make sepatu gede macam itu, apa nggak lucu? Apa mesti menenteng sepatu dua pasang, entar kalau udah sampai tempat kereta api ganti sepatu yang lebih gede? Repot bung!! Akhirnya mau tak mau sepatu yang cepat blong itu nggak aku pedulikan, yang penting kalau udah nggak layak ganti aja. Lebih penting lagi aku bisa dapat gambar dan berita KA untuk dikirim ke redaksi Majalah KA via email. Pokoknya ...enjoy aja. Nggak usah jadi wartawan Majalah KA pun kalau suka motret KA juga nantinya sepatu cepat jebol,...betul????
Jayalah Kereta Api Indonesia...Semboyan 40/41.
Nugroho Wahyu Utomo

Minggu, 03 Agustus 2008

Menyepi Di Alas Tuwa



Siapa pun orangnya, kalau diejek atau diremehkan, tentu akan muncul perasaan tidak suka. Sepulang dari tempat kerja (Jumat, 1/8-2008) yang saat itu berisi orang-orang menyebalkan, aku memilih merefreshkan pikiran dan melupakan pernyataan-pernyataan orang-orang yang sirik padaku. Kemana aku akan pergi menyepi atau mencari hiburan? Ke toko kaset/ compact disc atau tempat penjualan kaset/ compact disc antik, rasanya membosankan karena barang yang dipajang masih itu-itu saja. Maklum dua-tiga hari lalu aku baru dapet kaset album milik jebolan Deep Purple yaitu Rainbow dengan albumnya berjudul Dificult To Cure, sebuah album yang memuat satu komposisi milik Beethoven : Symphony No.9. Yang lain, belum ada minat. Mau tak mau, aku menyambangi tempat yang dulu sering aku singgahi untuk motret kereta api yaitu Stasiun Alas Tuwa. Sesampainya di stasiun, aku masih merasa asing dengan petugasnya, sehingga mau masuk aja rasanya sungkan...soalnya belum kenal. Setelah berkenalan dengan Pak Kadir yang saat itu tengah tugas sebagai Pengatur Perjalanan K A (PPKA), akhirnya aku dapat infot dari beliau kalau rel singgah kereta ada yang ambles. Segera aku menuju lokasi tempat amblesnya rel kereta untuk melakukan penelitian, siapa tahu penelitian ini bisa menjadi bahan untuk tulisan. Benar, posisi spoor singgah 2 yang berdekatan dengan bangunan stasiun sebagian miring ke utara dan mendekati wesel miring ke selatan. Padahal posisi rel belok ke utara. Kondisi ini akan membahayakan rangkaian kereta pun lokomotifnya anjlok. Karuan aja bila pihak stasiun tidak mengizinkan KA melintas di jalur yang ambles itu lantaran dianggap membahayakan, sampai ada perbaikan. Selama di Stasiun Alas Tuwa, aku sempat menyaksikan persilangan antara KRD Pandanwangi yang ditarik lokomotif CC20179 milik Depo Lok Jatinegara dengan KA Argo Bromo Anggrek yang ditarik lokomotif CC20312. Aku menyukai kerja PPKA stasiun yang masih menggunakan wesel dan sinyal manual apalagi saat mengirimkan sinyal ke stasiun berikutnya tentang keberangkatan kereta api. Selain menyaksikan KRD Pandanwangi yang ditarik lok CC20179 dan KA Argo Bromo Anggrek yang ditarik lok CC20312, aku juga sempat menyaksikan KRD Bojonegoro dari arah timur melintas dengan ditarik satu KRD New Kaligung Ekonomi. Wah KRD nya masih sering mogok, dan nggak ada lok yang mau narik, akhirnya diambil satu KRD New Kaligung Ekonomi. Pulangnya aku memilih naik KA Feder Bojonegoro yang ditarik lok CC201138r dan turun di Stasiun Semarang Poncol. Usai pulang dari Stasiun Alas Tuwa, lumayan pikiranku kembali fresh, nggak ada beban omongan orang-orang sirik lagi. Jayalah Kereta Api Indonesia...Semboyan 40/41
Nugroho Wahyu Utomo

Rabu, 30 Juli 2008

Nguber KA di Kota Warteg





Kota Tegal...konon disebut sebagai kota warteg. Nah, ketika rekan-rekan IRPS Bandung yang terdiri dari Aryo Wibisono, M Rizky, Bagus W, Asep, serta Pura Krisnamurti mengajakku menyusuri jalur-jalur KA peninggalan SCS (Semarang Cirebon Stoomtrammascapaj), tentu membuatku menjadi senang. Perjalanan pertama dengan start dari Stasiun Semarang Poncol (dulu Stasiun Semarang West) yang merupakan stasiun ujung pada zaman SCS di tahun 1914, adalah menumpang KRD Kaligung Bisnis. Sebetulnya usai makan nasi bungkus yang mak nyoss di dekat depo lok Semarang Poncol, kami mau naik KRD New Kaligung Ekonomi yang baru diresmikan Gub Jateng H Mardiyanto (kini mendagri). Tetapi rencana itu molor ketika KA 1001 dan 1003 benar-benar menggoda kami untuk hunting sejenak sekaligus napak tilas jalur segitiga pembalik yang merupakan fungsi pemutar posisi lok dari long hood menjadi short hood. Selama dalam perjalanan naik KRD Kaligung Bisnis yang kursinya lebih empuk, mirip kursi di dalam pesawat, aku duduk di samping Bagus W dan dalam perjalanan yang di ocehin adalah soal Stasiun Pindrikan sebagai stasiun pertama di Semarang milik SCS. Sayang, rangkaian KRD tidak melintasi bekas Stasiun Pindrikan (Frederick Land) yang kini berubah menjadi kantor agen travel, tetapi kami bisa menyaksikan bekas deponya.
Sesampainya di daerah Gringsing - Batang tepatnya melewati Stasiun Plabuan yang berdekatan dengan bibir pantai laut Jawa, para anggota IRPS Bandung ini asyik memotret dari dalam KRD. Sementara aku asyik duduk nyantai, karena lagi males hunting. Tiba-tiba aku tertidur dan tak disangka sudah nyampai di Stasiun Pekalongan. Terus ketiduran lagi lalu tak disangka sudah nyampai di Stasiun Tegal. Kami langsung berebut turun dari KRD dan aku melihat dari arah barat ada rangkaian ketel Pertamina yang ditarik lok D301. Wah...rangkaian ketel, di Semarang sudah nggak dilewati rangkaian kayak gini. Rupanya rangkaian ketel itu kosong dan hendak ditarik dari depo ketel Tegal kemudian ditarik lok CC201 menuju Maos lewat Purwokerto. Tak lama kemudian kami sempat berebut hunting KA Argo Muria dari arah Jakarta yang singgah di Stasiun Tegal. Setelah KA Argo Muria meninggalkan Tegal, kami langsung nyari tempat makan dan sholat. Eh...tetapi sebelumnya kami sempat hunting gedung bekas kantor SCS yang berdekatan dengan stasiun. Gedung tersebut kini digunakan untuk Universitas Pancasila Tegal. Kata Mas Saleh Purwanto...katanya ada penampakan, mirip Lawang Sewu, bener nggak sih...?
Tibalah waktunya makan siang, aku memilih menu Ketoprak yang rasanya manis-manis pedas...mak nyoss. Memang Tegal kotanya warteg. Setelah sholat Dhuhur, kami melanjutkan perjalanan terakhir di kota udang Cirebon, buat nengok lok CC20015 yang legendaris itu.
Jayalah Kereta Api Indonesia...semboyan 40/41
Nugroho Wahyu Utomo

Senin, 21 Juli 2008

Belajar Fotografi KA



BULAN April 2007 aku terkejut ketika namaku terdaftar dengan sendirinya di milis railway photography. Gila, motret dengan jiwa seni fotografi aja aku nggak bisa, cuma dalam taraf belajar, kok namaku di pajang dalam milis railway photography? Siapa yang masang? Tetapi nggak apapa deh, berarti hasil karyaku soal foto kereta api yang masih pas-pasan dihargai oleh mereka yang hobi fotografi, alhamdulilah. Daripada nggak, mendingan buat belajar sekalian. Sebenarnya bicara soal fotografi, aku sendiri bila ingin menciptakan sebuah karya fotografi yang bagus, mesti harus membangun mood dulu baru ngambil obyek yang akan dibidik. Salah seorang rekan fotografer terkenal dari Mata Semarang Photography Club, namanya Pak Agus Wis, kelihatannya berpendirian sama denganku yaitu kalau beliau perlu konsep terlebih dulu baru mengambil obyeknya yang akan di foto. Cuma bedanya, mood yang dibangun dalam fotografi ini harus dibangun secepatnya, tidak bisa menunggu lama seperti ketika aku menulis puisi, buku, atau lagu. Saat itu pula harus muncul. Nah, kalau yang model kayak gini, aku yang kerepotan. Terkadang aku menyesali kenapa nggak kayak temanku yang tadi motretnya kayak gini, dst ...dst...Selain itu modal fotografi yang aku miliki pas-pasan. Saat itu hingga kini aku hanya memiliki 1 kamera digital Kodak C330 yang aku beli tahun 2006. Sering aku minder dengan teman sesama fotografer apalagi wartawan. Selain itu kamera digital yang mini sudah umum dipakai masyarakat, dan aku pikir seorang wartawan kayak aku harus memakai kamera kelas XLR...duh malunya, duit darimana ya aku bisa beli kamera segede itu. Lagi pula gajiku pas-pasan, dan aku hanya mengandalkan honor dari seorang wartawan bukan dari hasil terima amplop (aku sangat tidak suka menerima amplop duit setiap kali meliput). Namun gambaran soal wajib tidaknya seorang wartawan mengenakan kamera XLR terjawab sudah ketika aku mendapat tugas meliput acara bulutangkis di GOR Satria Purwokerto awal Juni 2008 lalu. Ternyata rekan-rekan wartawan dari Jakarta masih banyak yang memakai kamera digital mini bukan XLR, hatiku jadi plong. Kembali ke soal belajar fotografi di kereta api. Ketika aku memiliki kamera digital tahun 2006, aku mulai hobi hunting kereta api. Lama-lama aku gatal ingin mengabadikan kereta api yang lagi lewat, atau berhenti dengan cita rasa fotografi yang tinggi. Kegemaranku memotret kereta api atau obyek apapun selalu dari sudut rendah. Entah kenapa selalu ingin mengambil dari sudut rendah. Kemudian aku hasilkan sebuah karya muktahir pertama berjudul : Sunshine In Poncol Bahkan ketika memotret spoor di Stasiun Mangkang dan Jrakah, aku lakukan dengan sudut rendah agar mendapatkan bidang horisontal dari pemandangan terjauh. Mungkin mood itulah yang muncul pertama kali ketika mengambil gambar apapun. Selain itu aku menyukai gambar yang separuh bayangan (silhoute) karena terinspirasi oleh hasil cover album The Beatles-Meet The Beatles yang menampilkan separuh bayangan. Cara itu aku praktekkan hingga menghasilkan karya Menengok Argo Muria dengan modelnya adalah seorang railfan(pecinta KA) dari IRPS anggota termuda asal kota Pekalongan, Syaeful di dalam kereta Tawang Jaya. Tetapi adakalanya, sebuah hasil karya yang tanpa direncanakan akan menghasilkan karya yang lebih bagus dan mendapat pujian para fotografer atau pengamat fotografi, misalnya pada karyaku berjudul Menyeberang Jembatan Indomie. Ketika karya tersebut aku tanyakan kepada fotografer terkenal Mas Stefanus Hanie, beliau menilai karyaku ini paling baik daripada beberapa foto hasil karyaku lainnya. Yang lain, masih banyak kekurangannya, kata Mas Stefanus. Begitu pula rekan satu kantorku, Mas Dwi N R yang juga jago fotografi turut menaruh penilaian yang bagus bagi karyaku berjudul Menyeberang Jembatan Indomie. Kenapa disebut jembatan Indomie? karena jembatan tersebut pernah dipakai syuting iklan Indomie beberapa tahun silam. Sayang, ketika aku memutuskan keluar dari dunia railfan tanggal 12 Januari 2008, aku mengakhiri kegiatan memotret kereta api ditempat-tempat penting macam Depo Lok Semarang Poncol, Stasiun Semarang Poncol, Stasiun Alas Tuwa. salah satu rekan railfan dari IRPS Semarang yang kerap bersamaku hunting kereta api, Mas Yosanto mengaku nggak punya teman untuk hunting kereta api lagi di tempat-tempat tersebut. Tetapi belakangan, arah kegiatan IRPS Semarang setelah aku mengundurkan diri, denger-denger lebih berorientasi ke preservasi bukan cuma sekedar fotografi. Pasalnya rekan-rekanku dari IRPS Semarang merasa prihatin melihat banyaknya aset-aset kereta api pertama di Indonesia (apalagi kota Semarang sebagai kota kereta api pertama di Indonesia) banyak yang musnah. Semoga preservasi ini membawa hasil, amien. Jayalah Kereta Api Indonesia...Semboyan 40/41
Nugroho Wahyu Utomo